ATM EMV – NSICCS

Duration

3 Days

 

Pendahuluan

Dewasa ini perkembangan dan pertumbuhan transaksi dengan menggunakan kartu ATM semakin meningkat. Kebutuhan nasabah terhadap transaksi di mesin ATM sudah tidak bisa dihindari lagi. Nasabah sudah dapat memilih Bank mana yang dapat memberikan layanan lebih terutama melalui menu-menu yang tampil pada layar ATM. Nasabah sudah mulai malas untuk harus datang ke cabang karena harus menghadapi antrian dan lokasi kantor cabang yang jauh dari tempat tinggal.

 

Bank harus mulai jeli dalam merambah layanan tidak hanya transaksi yang bersifat basic saja seperti penarikan tunai dan transfer rekening. Namun juga harus menjalin kerjasama dengan pihak-pihak lain untuk dapat menyediakan fitur-fitur baru yaitu menu pembayaran tagihan maupun pembelian suatu barang yang bersifat elektronis seperti voucher pulsa, tiket, dan lain sebagainya. Tidak hanya di mesin ATM, Bank juga harus menyediakan layanan pada delivery channel yang lain seperti pada mesin EDC yang dipasang di tempat-tempat belanja, atau menggunakan SMS Banking sehingga dapat diakses melalui handphone, bahkan dapat menyediakan menu transaksi di Internet. Dengan demikian nasabah dapat melakukan transaksi dimana saja dan kapan saja.

 

Semakin banyak kartu ATM yang beredar di masyarakat maka tingkat kejahatan dibidang perbankan akan semakin tinggi. Teknologi kartu ATM yang digunakan sekarang ini memungkinkan orang lain dapat melakukan penggandaan terhadap data kartu yang tersimpan dalam media magnetis. Akhir-akhir ini banyak dijumpai kasus bagaimana penjahat dapat mengintip nomor PIN nasabah dengan cara menempelkan kamera tersembunyi pada mesin ATM. Sehingga dengan menggunakan kartu ATM palsu dan PIN yang telah terbaca, maka dengan mudahnya mereka melakukan pembobolan di mesin ATM. Untuk mengatasi hal tersebut maka sistem keamanan harus lebih ditingkatkan dengan menerapkan kartu chip sebagai kartu pintar yang memiliki tingkat keamanan yang lebih tinggi.

 

Bank Indonesia sebagai Bank Sentral di Indonesia tidak tinggal diam menghadapi kasus tersebut. Sebagai regulator di bidang perbankan, Bank Indonesia sebelumnya telah menetapkan untuk kartu kredit harus menggunakan kartu chip sejak awal 2010 sesuai dengan Surat Edaran dari Bank Indonesia nomor 11/10/DASP tanggal 13 April 2009 tentang Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu (APMK). Pelaksanannya jauh lebih mudah karena terbantukan oleh adanya penerapan EMV sebagai standard kartu chip bersama pada jaringan Europay, Mastercard dan Visa, dimana semua Bank di Indonesia yang mengeluarkan kartu kredit sudah terjalin kerjasama dengan jaringan kartu kredit Internasional.

 

Bagaimana dengan penerapan kartu chip pada kartu debit atau kartu ATM? Meskipun Bank Indonesia telah menetapkan regulasi bahwa kartu ATM harus diubah menjadi kartu chip sejak 2009, namun pada kenyataannya implementasinya dirasa sangat sulit. Hal tersebut dikarenakan tidak semua Bank di Indonesia yang telah menerbitkan kartu ATM dan memiliki mesin ATM tergabung dengan jaringan Internasional. Melalui regulasi yang baru yaitu Surat Edaran dari Bank Indonesia nomor 14/23/DASP tanggal 31 Agustus 2012 ditetapkan bahwa implementasi teknologi chip pada kartu ATM wajib dijalankan paling lambat tanggal 31 Desember 2015.

Untuk mempersiapkan proses migrasi dari kartu magnetik ke kartu chip tentunya membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran. Biaya yang ditimbulkan juga tidak sedikit dimana Bank harus melakukan pergantian semua kartu ATM, mesin ATM, mesin EDC, penambahan mesin HSM dan perubahan pada sistem switching dan host-to-host ke provider jaringan. Disamping itu juga tenaga-tenaga yang terlibat harus sudah memahami betul baik secara teknis maupun administratif sebelum melakukan implementasi kartu chip. Seluruh elemen bagian yang terlibat (bagian IT, card center, bisnis, management resiko, operasional) harus mulai memahami perbedaan secara prinsip sistem yang telah berjalan selama ini menggunakan kartu magnetik dengan sistem yang akan diubah dengan menggunakan kartu chip. Hal ini bertujuan untuk menyamakan pola pandangan yang seragam sehingga tidak menimbulkan dampak pada nasabah akan perubahan yang terjadi sehingga bisa melakukan mitigasi resiko yang berdampak pada reputasi dari operasional Bank.

 

Pada kesempatan ini kami menawarkan paket training dengan materi-materi yang berkaitan dengan persiapan menuju perubahan kartu chip. Tidak hanya sekedar pemenuhan dari regulasi Bank Indonesia saja, namun dengan mengikuti paket training ini Bank maupun institusi yang terlibat dapat lebih tahu bagaimana cara mengembangkan sistem payment host-to-host sehingga dapat menambah wawasan dalam membuat bisnis-bisnis baru untuk memperkuat layanan kepada nasabah. Semakin tinggi tingkat kepuasan nasabah dalam menggunakan produk-produk dari Bank maka tentunya pendapatan dari Bank dapat lebih ditingkatkan melalui fee based income.Pemahaman Kebutuhan

Melalui proposal ini kami mencoba memahami kebutuhan dari Bank untuk dapat meningkatkan pengetahuan dari staf dalam menghadapi perubahan peraturan dari Bank Indonesia terkait APMK (Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu) melalui pelatihan (training) yang berkaitan dengan persiapan implementasi kartu chip. Tujuan yang hendak dicapai adalah:

  • Memahami secara detail proses transaksi menggunakan kartu ATM
  • Mengetahui bahasa host-to-host yaitu tata-cara sistem Bank berhubungan dengan institusi lain untuk membangun jalinan bisnis secara online.
  • Mempelajari bagaimana mesin ATM bekerja melayani transaksi.
  • Dapat mengembangkan fitur-fitur baru yang dipasang pada mesin ATM.
  • Dapat menangani permasalahan dengan cepat terhadap keluhan nasabah dalam bertransaksi di mesin ATM.
  • Mengetahui lebih dalam bagaimana cara meningkatkan keamanan sistem sehingga terhindar dari kejahatan dalam dunia perbankan terkait transaksi melalui ATM.
  • Dengan mengerti bagaimana kartu chip bekerja pada sistem, maka Bank lebih siap dalam menghadapi rencana migrasi sesuai dengan regulasi Bank Indonesia.

Seperti diketahui bersama bahwa Bank Indonesia memberlakukan Surat Edaran Bank Indonesia nomor 13/12/DASP tertanggal 18 Oktober 2011 disebutkan bahwa:

Penerbit, Acquirer, Prinsipal, Penyelenggara Kliring dan Penyelenggara Penyelesaian Akhir (untuk selanjutnya secara bersama-sama disebut “Penyelenggara”) Kartu ATM dan/atau Kartu Debet wajib menyesuaikan atau meningkatkan keamanan sarana pemroses pada mesin Electronic Data Capture (EDC), mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM), serta sistem pendukung

dan pemroses transaksi (back end system) yang dapat memproses Kartu ATM dan/atau Kartu Debet berteknologi chip dan PIN paling kurang 6 (enam) digit, paling lama tanggal 31 Desember 2015.

Sejalan dengan hal tersebut kesepakatan industri dibidang AMPK telah mengeluarkan ketetapan untuk mengadopsi standar EMV (Europay Mastercard Visa) untuk membuat versi kartu chip dengan diberi nama NSICCS.